Oleh: Thufail Al Ghifari
Tulisan ini saya tujukan kepada para syuhada yang lebih dari 1000 masyarakat sipil Palestina tercium kesturinya menuju kehidupan abadi. Bertemu dengan Rabb yang Maha Mulia, bertemu dengan Sang Lelaki Isnpirasi yang dimuliakan dalam kesempurnaan yang disempurnakan dan para sahabat dan orang - orang sholeh lainya.
Memasuki Hari ke-22 kemarin Israel resmi mengangkat bendera gencatan senjata (baca:menyerah) target mereka untuk menaklukkan Gaza. Media Israel menyebutkan delapan target Israel yang gagal dicapai dalam agresinya di Jalur Gaza.
1. Kegagalan menghentikan serangan roket
Tujuan utama agresi Israel adalah menghentikan serangan roket Palestina ke Israel. Namun media Israel dan publik Israel masih menyebutkan bahwa gerakan Hamas masih memiliki senjata roket dan pelontarnya. Padahal roket itu masih mengganggu Israel. mereka mempertanyakan bagaimana jika Hamas masih menyerang permukiman Israel dengan roket-roketnya.
2. Gencatan senjata karena tidak berdaya
Indikasi kekalahan Israel dalam agresinya ke Jalur Gaza terbukti dengan gencatan senjata yang dilakukan Israel. Media Israel menyebut bahwa gencatan senjata itu dilakukan Israel karena ketidakberdayaan dan bukan karena kekuatan. Mereka mengisyaratkan bahwa ini bukti kekalahan psikologis dan militer bagi Israel dalam menghadapi perlawanan Palestina. Karenanya, gencatan senjata yang dinyatakan Israel tidak ada gunanya.
3. Shalit masih ditawan
Target lain yang tidak bisa dicapai Israel dalam agresi ini adalah membebaskan serdadu mereka yang ditawan perlawanan Palestina di Jalur Gaza yakni Gilad Shalit. Media Israel dan pakar menyebutkan bahwa Shalit masih ditawan oleh Hamas. ini sebagai bukti kegagalan intelijen Israel dalam mencari keberadaan Shalit. Bahkan untuk memperoleh informasi keberadaan saja tidak berhasil.
4. Israel mendapat pukulan keras
Di sisi lain, citra Israel mengalami pukulan keras dari dunia yang melihat semakin jelas bahwa “Israel negara penjahat” yang menggunakan senjatanya tidak pada tempatnya serta melakukan tindakan yang tidak bertanggungjawab. Dunia juga melihat bahwa Israel melanggar seluruh hak-hak, konvensi internasional yang seharusnya dijaga oleh Israel dalam peperangan.
5. Hubungan tegang dengan Turki
Para pengamat Israel dan pakar media menyebut bahwa hubungan Israel dengan berbagai pihak semakin terancam hancur. Seperti dengan Turki, yang jelas menuding Israel sebagai penjahat perang dan memberikan simpati besarnya terhadap rakyat Palestina terutama kaum sipil di sana.
6. Kejahatan perang Israel
Sosok Israel semakin jelas setelah agresi ke Jalur Gaza; sosok penjahat perang. Di perkirakan dalam masa-masa dekat ini elit Israel akan menghadapi dakwaan kejahatan perang di mahkamah internasional. Sebab militer Israel melakukan aksi brutal dengan berbagai jenis serangan, menghancurkan rumah-rumah yang ada penghuninya, menghancurkan satu keluarga penuh, membombardir perkampungan sipil dengan bom fosfor, bom curah (cluster), uranium dan lain-lain.
7. Membidik sipil Palestina
Para pakar Israel menyebutkan bahwa militer Israel membidik warga sipil Palestina yang sama sekali tidak terlibat dalam peperangan secara disengaja.
8. Hamas mampu mengaku menang
Media Israel menegaskan bahwa kegagalan militer Israel terbukti bahwa Hamas masih mampu mengaku menang sebab target Israel tidak tercapai seperti yang dicanangkan oleh militer Israel, Olmert, dan Barack serta para antek-anteknya.
Dalam hal ini, bukti jelas bahwa kejayaan umat tidak dicapai oleh jumlah tentara dan massa yang banyak. Hamas, Jihad Islam dan faksi faksi perlawanan lainnya yang bersatu melawan Israel sangat mengutamakan kekuatan 'langit' dalam perang ini. Dan terbukti sukses besar para Mujahidin di Iraq dan Afghanistan yang membuat tanah mereka menjadi kuburan bagi tentara AS terulang di Palestina.
Israel boleh membantai 1000 lebih rakyat Palestina. Tapi ketahuilah pembantaian mereka tidak lebih dari sebuah ekspresi kepanikan dan kepengecutan dari rasa kewalahan, kecapekan, kebingungan, ketololan dan kepanikan juga kepecundangan mereka karena tidak bisa mengimbangi perang kota dengan Hamas dan koalisinya bersama Jihad Islam dan lain sebagainya.
Dengan tegas Brigade Al Quds sayap militer Jihad Islam menyatakan telah membunuh 300 lebih tentara israel, dan itu belum termasuk data data dari Brigade Izzudin Al Qassam sayap militer Hamas dan lainnya. dalam hal ini kita harus sepakat penyerangan habis lebih efektif karena mengenai sasaran dan sangat profesional karena tidak melanggar hukum internasional(yang di buat di konferensi thagut venezuela) apa lagi hukum syariat islam karena murni menyerang tentara israel. Sedangkan Israel dengan sangat sengaja menyerang rakyat sipil bahkan menggunakan zat kimia dalam invasinya.
Mundurnya Israel dari perang ini telah mengulangi sejarah Hizbullah di 2006 lalu. Sekali lagi dengan bantuan Allah kita bisa merasakan (walau belum tentu sama persis) apa yang terjadi diperang Badar ketika Allah menunjukkan kebesaranNya dengan mengizinkan 300 Mujahidin mengalahkan 3000 tentara kafir.
ya bersyukurlah saudaraku dan teguhkan keimanan dan perjuangan kita ini. Karena sejatinya perang ini belum selesai. Masih ada analisa lain yang harus kita waspadai.
1. Kemungkinan Israel kembali menyerang setelah 7 hari gencatan senjata ini.
2. Israel sedang mengevaluasi ulang strategi penyerangan.
atau yang ketiga, Israel sedang melakukan pengkebirian terhadap suara HAMAS menjelang pemilu Palestina mendatang. Dengan ini Israel sangat berharap MUNAFIK AL FATAH akan memenangkan pemilu karena 1000 lebih suara pendukung HAMAS sudah hilang (baca:Dibantai!). Dengan menangnya Fatah ada kemungkinan dominasi politik Israel bisa masuk ke Palestina melalui si munafik Mahmoud Abbas dan kronco kronconya.
kita masih menunggu perkembangan selanjutnya walau kita tetap bersyukur akan kemenangan luar biasa bagi Palestina!..perjuangan belum selesai..
Maka tidak sia - sialah kalian yang menghabiskan pulsa menyebarkan propaganda di Internet, kalian yang berjalan dari Monas ke Bundaran HI, kalian yang bertahan diantara terik matahari dalam aksi aksi demo kalian, kalian yang ditangkap polisi karena di anggap melakukan aksi 'ilegal' dari kacamata sistem thagut negeri ini.
Juga tidak sia - sialah engkau Pak Tifatul Sembiring, meski saya anti demokrasi tapi fitnah kedangkalan PANWASLU yang mencari cari alasan untuk menjatuhkan anda dan gerakan anda ternyata telah membuahkan hasil, bahwa akselerasi kader PKS dalam membentuk opini lewat demo juga telah membakar semangat juang Palestina untuk menang! Dan terbukti PANWASLU Overacting..tolollah PKS kalau dia aksi Palestina cuma karena takut PANWASLU akhir dia pakai bendera PANWASLU..mungking ngak seeeeh? tapi jangan GR lo pak Tifatul saya tetap anti demokrasi..hehehe..mmmuach!
tidak sia - sialah kalian Syabab HTI, FPI, MMI, ANSHORUT TAUHID, KOMANDO LASKAR JIHAD dan Forum Umat Islam dan semua elemen umat di Indonesia yang tidak henti - hentinya melakukan perlawanan dan pembentukan opini tandingan!
terus bergerak! tetap bersatu!...Bersama Allah dan RasulNya!
ISLAM BERSATU TAK BISA DI KALAHKAN!
OUR JIHAD NEVER DIE !
Israel Kalah Telak Di Palestina ( 8:0 untuk Palestina ) - Apa strategi baru Israel untuk Jalur Gaza?
Oleh Next Reolt
Kaum pagan adalah orang-orang yang memberhalakan sesuatu, tanpa dasar filosofis. Mereka hidup di atas perbudakan makhluk lain. Bodohnya lagi, hal ini di mapankan dalam wujud konstitusi yang pada akhirnya di sepakati secara kolektif. Kaum pagan senantiasa membodohi kaum yang lain, untuk kemudian bersama-sama mereka melakukan penyembahan kepada berhala-berhala mereka.
Ada kalanya, berhala ini harta yang di pelihara, wanita yang di cinta, dan atau kuasa yang di damba. Trinitas pemberhalaan ini adalah wujud penghambaan yang menipu. Bahkan jika di imani secara keseluruhan, seseorang akan terpecah dari unity kepribadiannya. Hal ini akan menyebabkan, masyarakat menjadi rakyat yang terjajah secara keyakinan, pemikiran dan kekuatan.
Adalah parlemen dan sistem demokrasi sebagai manifestasi kemusyrikan ini, yang pada hari ini justru di agung-agungkan oleh mereka yang mengaku beriman kepada Islam. Padahal beriman kepada Islam berarti menjadi ahli sholat, ahli infaq sekaligus menjadi rakyat Islam yang tunduk pada Undang-undang Islam. Bagaimana tidak, sedangkan tauhid mengharuskan demikian. Syahadat telah menjadi ikrar transaksi kita kepada Alloh dan semesta manusia serta alam, bahwa kita tunduk patuh pada transaksi Islam.
Perihal manhaj ini adalah pilihan yang tegas dan jelas. Abu Jahal, seorang pembesar kaum Quraisy pada waktu itu, menolak mentah-mentah tawaran transaksi Islam yang di ajukan oleh Muhammad (sholawat dan salam untuknya). Ini karena Gembong kejahilan ini tahu dan paham konsekuensi dari ikrar syahadat ini. Lantas bagaimana kita, yang mengklaim sebagai intelektual muda? Adakah kita mengerti akan hal tersebut. Bersyahadat berarti bertuhan, beribadah dan berhukum kepada Alloh dengan tuntunan Muhammad (sholawat dan salam untuknya).
Hegemoni pagan, kini mendzohirkan dirinya dalam bentuk agama, cinta dan negara. Rezim yang penuh kegelapan ini menjajah fitrah manusia, merenggutnya dari kepribadian yang utuh dan tata sosial yang alami. Seseorang mungkin berfikir untuk menumbangkan rezim ini. Tapi, sering kali itikad baik ini kandas di tengah jalan. Mengapa? Karena hanya dengan metode Ilahi lah hegemoni pagan akan tumbang; yakni metodologi yang utuh dan alami. Metodologi yang telah di gambarkan oleh pimpinan perang (melawan pagan) dengan garis lurus.
Syirik Politik
Seperti agama, politik pun adalah sebuah pilihan. Hanya orang jahil yang taken for granted sistem politik orang tuanya. Orang-orang seperti inilah yang terus menerus mempertahankan status quo rezim pagan. Dan pada akhirnya, politik akan keluar menyimpang dari substansinya; yakni mengurus rakyat. “Politik turunan” sebagaimana “agama turunan” hanya akan memperburuk keadaan penganutnya. Akan banyak bid`ah atas nama kemaslahatan tatanan. Akan banyak pelarangan dan aturan berdasarkan norma warisan.
Seseorang yang memberhalakan politik akan berusaha mati-matian untuk hidup dalam sistemnya, berjuang demi eksistensinya dan mati untuk keutuhannya. Orang-orang di luar kelompoknya akan di musuhi, apalagi mereka yang berusaha memerangi dan menentang sistem mereka. Mereka akan berusaha menangkap, memenjarakan, mengusir dan menyalib musuh politik mereka, yakni orang-orang beriman. Mereka tidak akan pernah ridho sampai orang-orang beriman (musuh mereka) masuk kedalam paradigma dan framework mereka.
Lantas bagaimana dengan orang-orang yang beriman? Orang-orang yang mengimani keutuhan dan fitrah insani akan senantiasa berbenturan dengan hegemoni “anti-fitrah” tersebut. Jawaban bagi keselamatan antara kedua belah pihak adalah perang total! Pertempuran habis-habisan hingga “mati atau menjadi hegemoni”. Ya, hanya itulah pilihannya. Mau bagaimana lagi; iman atau syirik. Tentukan pilihan Anda sekarang juga.
Shafar 1427 Hijriyah
Oleh Next Revolt
“Kekufuran memodernisasi dirinya menjadi sesuatu yang ilmiah diatas fikiran yang rasional”
Kalangan terpelajar dari umat ini adalah harapan terbesar bagi peradaban Islam untuk bangkit kembali. Ruang akademik sebagai basis intelektual dan core competancy ilmu-ilmu Islam merupakan tempat yang paling potensial untuk memulai membangun peradaban ilmiah. Sebab kadar kemajuan sebuah masyarakat di ukur oleh intelektualitas kaum terpelajarnya.
Kaum muslimin yang kini tengah terpuruk, terjelembab dalam lubang kegelapan seolah merindukan renaissance yang pernah dialami oleh Barat. Apa yang sebenarnya di butuhkan, dan apa yang sebenarnya terjadi? Padahal Islam tidak pernah mengalami kematian, sehingga tak perlu di lahirkan kembali. Karena“Akan senantiasa ada segolongan dari ummat-ku yang berperang di atas al-haq...” maka permasalahannya adalah bagaimana men-dzohirkan golongan (minoritas) tersebut.
Al-Islam ya`lu wala yu`la alaihi. Islam itu agung dan tetap agung, dari awal mulanya, hingga kini. Tapi bagaimana dengan umat-nya? Bagaimana dengan generasi mudanya dan kalangan terpelajarnya. Kita yakin akan sunnah kauny yang menyatakan bahwa peradaban itu dipergilirkan. Kita juga yakin bahwa Islam akan kembali mendominasi dunia (Idzharudien).
Kenyataan bahwa pengusung al-haq (baca : islamic standard) adalah minoritas pada saat ini telah di kabarkan oleh Rosululloh. Banyak dalil-dalil yang menegaskan, baik dalil naql maupun aql.
Akademisi bebas hukum
Sudah maklum bagi sistem hukum negara ini, bahwa kampus merupakan basis intelektual, kebebasan berfikir, berpendapat dan bersuara. Karenanya siapapun boleh berkata apa pun. Siapa pun boleh berpendapat apapun, tanpa harus takut terkena sangsi represif dari rezim. Ini aksioma yang disepakati secara umum. Bahwa sistem politik dan hukum tak berlaku di dalam kampus.
Lantas bagaimana dengan sistem agama (hukum agama, sangsi agama, dll)? Apa masih berlaku aksioma kebebasan diatas? Mari kita lihat Undang-undang agama kita.
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu k edalam Islam secara kafah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaiton [Al-Baqoroh:208]
Katakanlah: "Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam, tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah". [Al An' aam: 162-163]
Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa Taala), maka Allah (Subhanahu wa Taala) menghapuskan segala amal perbuatan mereka. [Muhammad : 9].
Sesungguhnya, Islam melingkupi seluruh aspek kehidupan. Tidak ada rukhsoh kecuali untuk kebodohan dan kelemahan. Apa yang tertera dalam transaksi dan perjanjian Islam, akan tetap memberikan konsekuensi pada siapa yang berada dalam naungan transaksi tersebut.
Jika dalam framework negara, kampus bebas nilai maka dalam framework agama tidaklah demikian. Seorang muslim tidak di perkenankan untuk melakukan diskusi tanpa implementasi, atau untuk berpendapat secara bebas atau berkata sekehendak nafsunya. Hawa nafsu tidak boleh ada di kampus, sebab ia hanya pantas ada di neraka.
Ilmu Iman versus Ilmu Kufur
Sudah mafhum dalam khazanah Islam, bahwa setiap ilmu menuntut pengamalan. Karenanya ilmu-ilmu Islam hampir seluruhnya bersifat praksis dan aplikatif. Tidak ada tradisi olah fikir (semata), atau onani intelektual yang biasa kita lakukan. Tidak ada diskusi, kecuali untuk implementasi. Karena apa yang diterima al-qalb, diterima oleh badan. Apa yang ada pada qoul akan ada pada `amal.
Berbeda dengan ilmu yang lahir di peradaban ‘tempat tenggelamnya matahari’. Apa yang ada di (dalam) kepala adalah untuk kepuasan kepala. Tidak berkaitan sama sekali dengan gerak tangan dan badan. Badan boleh di gereja, tapi kepala tidak mesti. Karena kepala punya kebebasan yang tak terbatas. (Isi) Kepala boleh saja pergi ke surga atau ke neraka, saat badan dan tangan ada di dalam tempat ibadah.
Islam menyeru manusia menuju Taman Firdaus secara keseluruhan. Taman kenikmatan yang dapat di rasakan kepala, tangan dan badan secara bersamaan. Taman yang akan menjadi tempat tinggal orang-orang yang menerima Islam secara keseluruhan. Taman yang memiliki segala kenikmatan, berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh manusia modern tentang surga.
Objektifitas dan perjuangan menggapainya
Sampai disini jelas, bahwa tidak hanya dengan berilmu kita menjadi beriman. Tidak sedikit orang yang ingkar justru setelah mendapat ilmu. Sekali lagi perlu di ingat bukan hanya ketidaktahuan yang membuat seseorang menjadi ingkar. Karena sebagaimana kita maklumi, iman dan kufr tidak di ukur dari sejauh mana pengetahuan yang di miliki.
Kita bisa melihat betapa ilmiah dan rasionalnya kekufuran pada hari ini. Secara empirik, setiap pihak yang mengusung peradaban akan mewujudkan tradisi ilmiah. Disisi lain, ada kisah tentang orang-orang beriman yang hampir kehilangan tradisi ilmiahnya. Jadi, bukan hanya iman yang menuntut tradisi ilmiah dan objektifitas.
Pada akhirnya, baik iman atau kufur, kedua pengusunganya akan diberi kemudahan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah ia kuasainya itu”. Namun demikian, kita harus sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan, dan menjadi kafir pun butuh perjuangan. Sebab hidup adalah pilihan, maka tentukan pilihan Anda sekarang juga. Mau bagimana lagi; iman atau kufur. Hanya itu!
Oleh Next Revolt
Kebodohan adalah pertentangan asasi dengan logika. Tetapi logika yang mana pun pasti subjektif menilai lawannya... >
Bodoh! Semua orang bodoh. Semua manusia bodoh. Tetapi saya tidak bodoh. Berarti saya bukan manusia? Ah, siapa peduli. Toh, semua yang berkesimpulan seperti itu semuanya orang bodoh. Terus, kenapa harus pusing. Semua juga tau, kalau orang bodoh sering salah dalam menarik kesimpulan.
Sekarang anggap saja saya bukan manusia. Kemudian anggap saja saya sejenis kera. Kera yang berani menuding semua manusia adalah BODOH! Kera yang mengajukan pertanyaan kepada Anda : "Apakah Anda bodoh?". Kemudian Anda menjawab : "iya!". Hahaha! saya langsung tertawa. Kemudian Anda merasa dibodohi, dan semakin bodoh ketika ada seekor kera yang menertawakan Anda. Anda berubah pikiran. Karena manusia percaya bahwa ia harus mempertahankan dirinya. Mempertahankan eksistensi, kemuliaan, kedudukan dan segala 'keangkuhan' manusia yang banyak itu. Dan Anda adalah manusia (minimal untuk sementara waktu). Kemudian Anda menarik kata yang telah Anda ucapkan. Kata yang baru saja Anda 'daratkan' pada seekor kera sebagai jawaban. Kemudian Anda berkata: "TIDAK" "Saya tidak bodoh"...
Aha! Kalau begitu Anda sama dengan saya. Ya, Anda bukan lagi manusia. Anda sepertihalnya saya adalah sejenis kera. Makhluk yang konon adalah moyang manusia yang bodoh itu. Manusia yang kini tengah berada dalam titik nadir kemanusiaannya. Manusia yang awalnya ingin di muliakan oleh penciptanya pada kali yang pertama. Tapi lantas menghinakan dirinya sendiri. Bagaimana??? Ya dengan logika! Lihat betapa bodohnya Anda dihadapan logika ini. Dengan logikalah kera dapat membodohi manusia. Dengan logika pula, manusia menentang penciptanya.
Logika menjadi dewa. Logika yang sejatinya hamba menjadi idola. Logika adalah berhala! Binasalah wahai para Rasionalis. Tempat Anda di akhirat adalah neraka. Sedang di dunia ada petaka, chaos tiada tara.
Salam kematian Rasionalis! Salam kematian logika, dari saya yang bodoh dimata Anda. Kematian Anda adalah ulah logika jua. Dia lah yang membunuh Anda berserta kebenaran Anda. Dia lah, yang akan membunuh 'ciptaannya' sendiri: "Subjektifisme" dan "Relativisme". Kenapa? Karena makhluk ciptaannya ini membangkang. Padahal logika telah berfirman sebelumnya; "Tidaklah ku ciptakan Subjektifisme dan Relativisme, kecuali untuk menghamba kepada ku". Tapi, keduanya kafir. Seperti Nietche yang ingin membangkang pada tuhan, akhirnya harus mati di tangan-Nya. Tragis! Logika harus 'berperang' melawan ciptaanya, sepertihalnya logika memerangi tuannya (Rasionalis, red.).
Fuuhh... dalam kehidupan seperti ini saya, dengan kesadaran saya sepenuhnya dan tanpa unsur paksaan sedikitpun memilih untuk menjadi bodoh. Agar tidak sedikitpun 'berperang' melawan pencipta saya. Biarlah saya tetap bodoh dimata dunia. Bodoh dimata para cendikiawan seluruhnya. Karena saya adalah seorang penakut, yang takut pada-Nya.
"cukuplah takut kepada Alloh sebagai ilmu dan keberanian menetang-Nya sebagai kebodohan" [Ibnu Mas`ud R.A.]
Oleh Next Revolt
Tidak ada tazkiyah yang mewajibkan kalian terdaftar di departemen dalam negeri pemerintahan manapun!
Harokah adalah berkumpulnya kalian di mesjid untuk bermusyawarah, dengan ataupun tanpa kehadiran seorang muhajirin Jama`ah Tablig.
Harokah adalah pergumulan politik kalian dalam sebuah kutlah taghyr, dengan ataupun tanpa seorang Syabab Hizbut Tahrir.
Harokah adalah lingkaran keluarga taqwa, dengan ataupun tanpa kehadiran seorang Ikhwan Partai Keadilan Sejahtera
Harokah adalah majlis musyawarah para mujahid dakwah, meski tanpa kehadiran Mujahidin MMI atau FPI.
Harokah adalah semangat menuntut ilmu syar`i, dengan ataupun tanpa kehadiran seorang Syaikh Salafi.
Tidak ada yang dapat meredusir kalian. Tidak ada yang mampu menista kalian. Karena kalian bersama Islam; Sebuah Transaksi Hidup yang Tinggi, tidak ada yang lebih tinggi darinya!
Maka,
Tidak ada rekruitmen sejati selain Syahadat dan masuknya kalian kepada Dienul Islam. Tidak ada taklimat kecuali Seruan ayat Al-Qur`an dan Hadith.
Kami menolak semua otoritas politik dan jutifikasi publik kecuali atas dasar ilmu dan hikmah dalam kebenaran.
Kami menggugat klaim kalian atas penafian gerakan-gerakan kecil yang kreatif dan independen. Kami mengafirmasi mereka sebagai harokah dan mendudukan mereka dengan kedudukan yang adil dan beradab.
Ingatlah, NAHNU DU`AT `ALA QOBLA SAIY.
Ya, kita da`i sebelum menjadi angota partai
Kita da`i sebelum qosam kepada kelompok politik
Kita da`i sebelum dan sesudah PEMILU 2009!
Dan seorang da`i tidak akan mengeluarkan pertanyaan aneh; "saya harus ikut harokah yang mana?"
Readmore »»
Oleh Divan Semesta
Sampai saat ini Nietzche masih mempengaruhiku. Demkian dengan Soren, Berdayev (tetapi tidak untuk Sartre). Namun si filsuf palu, si rajawali gila yang cakar terkuatnya adalah Spoke of Zarathustra itulah yang paling merubah diriku (mungkin lebih tepatnya –secara general--- menguatkan diri untuk mempercayai diri sendiri, berada diatas lutut dan kaki sendiri)
Saking cantik dan menariknya Nietzche, aku bahkan pernah mengatakan bahwa kitab yang paling indah di dunia itu bukan Al Quran. Alasannya sederhana, aku muslim dan sayangnya aku tak merasakan cita rasa seperti halnya ketika aku merasakan kecantikan Spoke of Zarathustranya Nietzche.
Temanku mengatakan sebaiknya aku mempertimbangkan apa yang kuakui, meski pun ia tahu bahwa dengan pengakuan itu bukan berarti aku memurtadkan diri. Ia mengetahui benar bahwa aku hanya berusaha untuk jujur pada diriku sendiri. Dan lagi-lagi ia pun mengatakan bahwa sangatlah wajar jika aku tidak merasakan taste nya al Quran karena aku tidak mengerti bahasa Arab. Maka –masih menurutnya-- aku menjadi sangat keliru ketika menilai al Quran dari terjemahannya.
Maka aku pun mengajaknya mendatangi alam berpikirku.
“Jika jawabanmu hanya seperti itu kupikir Spoke of Zarathustranya Nietzche akan menjadi semakin indah jika aku mengerti bahasa ibunya (kalau tidak salah bahasa German).”
Bagaimana tidak indah, jika penterjemahannya menjadi sesuatu yang sangat indah. Kurasa, tastenya Nietzche mungkin hanya bisa disamakan oleh Saad atau perkataan-perkataannya imam Ali (karena terjemahannya demikian indah).
Aku bukannya menafikan Quran sebagai sebuah kebenaran pada saat itu, karena aku memahami bahwa kebenaran al kitab tersebut bisa ditelusuri melalui otentisitas dan kandungan-kandungan keajaiban yang ada di dalamnya (coba baca Membumikan dan Wawasan Qurannya Dr. Quraisy Shihab).
Aku hanya menganggap bahasa Al Quran tidak memberikan memberikan banyak influence yang diawali dari apresiasi bahasa. Kalau tidak salah baca, hal yang kurasakan ini pun pernah dirasakan Goenawan Mohammad.
Tapi aku bukanlah kakek tua Goen. Aku masih mempercayai, aku masih mengimani Al Quran… dan ketika seorang temanku bernama Khusnul dengan santainya mengatakan, bahwa apresiasiku terhadap Nietzche wajar karena, “keadaan keadaan mental yang pas dengan Spoke of Zarathustra-nya Nietzche.”
Aku merasa sebuah hijab terbuka setelah beberapa tahun, aku tak bisa mendeskripsikan perasaan apa yang kualami ini.
Aku mulai merenung kembali mengapa Spoke of Zrathustra benar-benar mempengaruhi diriku..
Di akhir umur 23 aku sungguh mengagumi diri.
Benarlah yang dituliskan Ade dalam Belajar Nakal (buku yang luar biasa).
Pada kisaran umur itu aku merasa tak terkalahkan, aku memiliki sahabat yang luar biasa dan aku semakin merasa di atas, seperti rajawali, aku merasa tak ada satu pun yang sanggup menjatuhkan logika berpikirku.
Aku berada di tengah kemabukan atas diriku sendiri.
Dan pada umur 24 aku pun berkenalan dengan Spoke of Zarathustra.
Cocoklah sudah.
Mabuklah sudah.
Aku mabuk oleh kekuatanku sendiri.
Pada kreatifitasku.
Pada diriku.
Disanalah fase benar-benar mencintai hidup.
Amor fati!
Aku mencintai diri dan hidupku ini.
Kini ketika umurku beranjak di dua delapan, aku mendapatkan jawabannya.
Aku kemudian merenung kembali,
memperhatikan bagaimana sahabat-sahabatku beberapakali kupergoki menangis karena alunan al Quran yang mereka katakana luar biasa.
Sahabatku Heri bahkan pernah menangis terseguk, menghentikan bacaan shalatnya ketika ia membaca surat yang mengisahkan tentang bagaimana keterpisahan ibu dengan anak, anak dengan suami: meski dalam satu barisan tidak ada yang sanggup menolong karna kesempatan untuk tolong menolong telah ditutup oleh hari penghisaban. Setiap manusia diharuskan mempertanggungjawabkan eksistensinya.
Kisah mengenai keadilan, mengenai penghapusan nepotisme di tuangkan dengan sangat indah di sana. Dan sahabatku itu menangkap banyak ayat-ayat al Quran melebihi daya tangkapku terhadapnya.
Bukan hanya sahabatku yang itu saja yang mengalami.
Aku bisa mengatakan Mahdi seorang pria muda yang pengaruh Quran terhadapnya melebihi influence Zarathustra pada diriku. Atau sahabat-sahabat yang lainnya.
Benar apa yang Khusnul sampaikan. Kadang influence sebuah buku tergantung pada kondisi kejiwaan seseorang. Dan ketika magnum opusnya Nietzche telah menghabiskan sekitar empat tahun masa eksistensialis ku, sepertinya … kini saat yang tepat bagiku untuk kembali mempelajari kandungan Quran: mempelajari kandungannya sehingga aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya merenung, bagaimana rasanya tertawa atau terseguk ketika ayat-ayat Quran dialunkan.
Di danau filsafat aku telah berenang terlalu jauh.
Aku harus kembali ke tepian.
mengancingkan pakaian,
menuju lepas pantai,
dan meminta bantuan sahabat-sahabatku
untuk membimbing,
menuju samudera luas tak berbatas itu...
untuk mencintai hidup
dan belajar mencintai sisi yang lainnya:
kematian.
Oleh Divan Semesta
Ada bulan… ungkap Nyawa terbata, sambil melihat jendela.
"Mana bulannya?" Tanya Manda.
Ira tidak melihat bulan itu.
Ia lalu merendahkan kepalanya.
Ia tertawa.
Ternyata dibalik rimbun daun pohon jambu air itu, bulan mengintip kami bertiga.
Saya masih diam sambil memperhatikan Nyawa yang terbata-bata berceloteh.
“Bulan, bulan," panggilnya. "Sini bulan tidur ma Wawa." Ia menepuk2 bantalnya. "Di bulan, minum cucu bulan, makan ot, makan ot.”
Maksud cucu tentunya susu, sedangkan maksud ot adalah quacker oat yang selalu Ira suapkan sehari tiga kali padanya.
Saya melayangkan pikiran, tersenyum betapa saya dikarunia keluarga yang selalu membuat saya ingin pulang.
Setiap sore pikiran saya selalu melanglah ke Nyawa.
Ingin selalu mendengar ia menguik “jangan panda!” akibat saring seringnya saya mengitik-itik pinggang dan ketiaknya yang wangi.
Hm, Nyawa sudah lumayan besar. Terharu rasanya ketika ia mulai terbiasa merangkai kata. Dan ira tentu saja boleh berbangga karena banyak hal-hal yang bersifat spiritual saat ia melihat Nyawa tumbuh dibesarkan oleh tangan dan lisannya.
Dia merawat Nyawa baik-baik, membawanya setiap minggu ke toko buku, mengulang hafalan doa sesaat sebelum kami melihat wajahnya yang tak berdosa terpejam.
Hm saat menulis ini,
saat saya istirahat, saya pun masih melamunkannya.
Memikirkan apa lagi yang nanti bakal ia ceritakan di malam hari.
Adakah malam ini bulan masih ada di atas tempat tinggal kami.
Adakah malam ini bulan tersenyum pada sahabat kecil Nyawa, di sana...
di jalur Gaza?
Bersinarlah terus,
Bulan... Nyawa...
Bercahayalah terus,
Bulannya Nyawa...