Pesan Shaikh Aiman Az Zhawahiri utk Mujahidin Media

By Berandalantuhan Collective

Saya meminta kepada Allah agar memberikan sebaik-baik ganjaran kepada orang-orang yang berkecimpung dalam jihad media. Agar Allah membalas mereka dengan balasan yang terbaik atas resiko dan bahaya yang mereka ambil demi membongkar kejahatan salibis yahudi terhadap umat Islam. Dan saya mengajak mereka untuk meningkatkan usaha dan pengorbanan. Saya memuji Allah dengan kenyataan bahwa musuh menyaksikan, dengan sumberdaya mereka yang sangat besar dan penyebaran media besar-besaran, mengalami kekalahan di hadapan sumber daya yang sangat minim yang dimiliki Mujahidin.

Scene Report Sound For Palestine

By Berandalantuhan Collective

Fuih akhirnya sampai juga di Taman Ismail Marzuki. Setelah melewati perjalanan cukup menarik karena kami sempat kehujanan di Pondok Kopi. Berangkat Pukul 15.45 usai shalat ashar berjamaah, dari bekasi kami segera menuju ke Acara Sound For Palestine. Sebuah acara yang di mobilisasi oleh pengamen jalanan. Sebelumnya sempat dua jam kami menunggu Fuad Ketapel Art dan Epic GunXrose di rumah Udenk, karena beberapa kendala mereka tidak bisa hadir on time seperti yang direncanakan managemen. Jadinya yang harusnya berangkat jam 14.30 jadi molor.

Sound for Palestine

Kami Hanya Membela Diri

By Berandalantuhan Collective

Again. Inertia rocks! Bukankah inersia itu sebuah penyakit? Makanya saya minta tolong beritahu obatnya. Tidak masalah generik juga. Kawan, kita punya banyak agenda. Apa yang bisa kita lakukan untuk menolak diam dan ikut serta dalam iringan manusia yang masih waras melawan ketidakwarasan dan kebastardan? Baiklah. Soal Gaza, lebih 1300 jiwa terbunuh dan martyred tentunya. Mudah, murah, itulah darah saudara kita disana. Lalu masih saja arogan dan tanpa malu zionis fasis yang telah melakukan lebih daripada apa yang dilakukan oleh Hitler dengan warfare terkini..

Surat Abu Umar Al Baghdady

By Berandalantuhan Collective

sekilas pengkhianatan kepemimpinan HAMAS nampak dalam beberapa point berikut; 1. Keikutsertaan mereka ke dalam proses politik yang berada di bawah Undang-undang sekuler buatan manusia dan berpijak pada kesepakatan Oslo yang berisi kesepakatan untuk mengosongkan sekitar ¾ wilayah Palestina. 2. Pengakuan secara diam-diam terhadap Negara Israel dengan mengakui pembentukan Negara yang dibangun berdasarkan kesepakatan Oslo, serta pengakuan mereka atas sahnya presiden mereka yang sekuler, murtad dan menjadi agen Yahudi.

Palestine, Erdogan Vs Peres

By Berandalantuhan Collective

update 1) kemarin bertemu teman. seorang teman sekaligus saudara saya yang pendapatnya tidak jauh beda dengan yang lain soal peristiwa mutakhir dan akar sejarahnya. cukup menarik, mengapa hampir banyak orang yang membypass begitu saja masalah akar sejarah palestina saat peristiwa mutakhir terjadi, terakhir gaza. masih ingat bagaimana Luthfi assyaukani koordinator JIL mereduksi "perebutan" tanah dengan logika bahwa saat ini tanah yang telah dirampas oleh israel sudah "maju" dalam artian sudah dibangun dan disana terlihat pemandangan kota modern.

In Defense of Stupidity

Diposting oleh Berandalan Tuhan On 19.12

Oleh Next Revolt

Kebodohan adalah pertentangan asasi dengan logika. Tetapi logika yang mana pun pasti subjektif menilai lawannya... >

Bodoh! Semua orang bodoh. Semua manusia bodoh. Tetapi saya tidak bodoh. Berarti saya bukan manusia? Ah, siapa peduli. Toh, semua yang berkesimpulan seperti itu semuanya orang bodoh. Terus, kenapa harus pusing. Semua juga tau, kalau orang bodoh sering salah dalam menarik kesimpulan.



Sekarang anggap saja saya bukan manusia. Kemudian anggap saja saya sejenis kera. Kera yang berani menuding semua manusia adalah BODOH! Kera yang mengajukan pertanyaan kepada Anda : "Apakah Anda bodoh?". Kemudian Anda menjawab : "iya!". Hahaha! saya langsung tertawa. Kemudian Anda merasa dibodohi, dan semakin bodoh ketika ada seekor kera yang menertawakan Anda. Anda berubah pikiran. Karena manusia percaya bahwa ia harus mempertahankan dirinya. Mempertahankan eksistensi, kemuliaan, kedudukan dan segala 'keangkuhan' manusia yang banyak itu. Dan Anda adalah manusia (minimal untuk sementara waktu). Kemudian Anda menarik kata yang telah Anda ucapkan. Kata yang baru saja Anda 'daratkan' pada seekor kera sebagai jawaban. Kemudian Anda berkata: "TIDAK" "Saya tidak bodoh"...

Aha! Kalau begitu Anda sama dengan saya. Ya, Anda bukan lagi manusia. Anda sepertihalnya saya adalah sejenis kera. Makhluk yang konon adalah moyang manusia yang bodoh itu. Manusia yang kini tengah berada dalam titik nadir kemanusiaannya. Manusia yang awalnya ingin di muliakan oleh penciptanya pada kali yang pertama. Tapi lantas menghinakan dirinya sendiri. Bagaimana??? Ya dengan logika! Lihat betapa bodohnya Anda dihadapan logika ini. Dengan logikalah kera dapat membodohi manusia. Dengan logika pula, manusia menentang penciptanya.
Logika menjadi dewa. Logika yang sejatinya hamba menjadi idola. Logika adalah berhala! Binasalah wahai para Rasionalis. Tempat Anda di akhirat adalah neraka. Sedang di dunia ada petaka, chaos tiada tara.

Salam kematian Rasionalis! Salam kematian logika, dari saya yang bodoh dimata Anda. Kematian Anda adalah ulah logika jua. Dia lah yang membunuh Anda berserta kebenaran Anda. Dia lah, yang akan membunuh 'ciptaannya' sendiri: "Subjektifisme" dan "Relativisme". Kenapa? Karena makhluk ciptaannya ini membangkang. Padahal logika telah berfirman sebelumnya; "Tidaklah ku ciptakan Subjektifisme dan Relativisme, kecuali untuk menghamba kepada ku". Tapi, keduanya kafir. Seperti Nietche yang ingin membangkang pada tuhan, akhirnya harus mati di tangan-Nya. Tragis! Logika harus 'berperang' melawan ciptaanya, sepertihalnya logika memerangi tuannya (Rasionalis, red.).

Fuuhh... dalam kehidupan seperti ini saya, dengan kesadaran saya sepenuhnya dan tanpa unsur paksaan sedikitpun memilih untuk menjadi bodoh. Agar tidak sedikitpun 'berperang' melawan pencipta saya. Biarlah saya tetap bodoh dimata dunia. Bodoh dimata para cendikiawan seluruhnya. Karena saya adalah seorang penakut, yang takut pada-Nya.
"cukuplah takut kepada Alloh sebagai ilmu dan keberanian menetang-Nya sebagai kebodohan" [Ibnu Mas`ud R.A.]

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 Response to "In Defense of Stupidity"

Posting Komentar