Hari ini seorang lelaki pulang, dan seperti biasa masih dengan sedikit hasil dan segunung harapan. Lelaki itu sudah bergumul dengan debu dan keringat. Sementara panas mentari berganti shift dengan hujan dan angin. Ada banyak manusia di luar sana. Setiap masing-masing mereka saling bertemu untuk mewujudkan keinginannya. Ada yang mencoba mengorbankan orang lain untuk kepentingannya. Ada yang memanfaatkan keadaan untuk mengambil keuntungan. Ada ini, ada itu. Tapi lelaki itu tidak. Dia masih meyakini ada sesuatu yang bisa dia perjuangkan untuk kehidupan yang lebih baik.
Sore itu sangat melelahkan sekali. Berjibaku dijalan yang penuh dengan pertarungan memang membuat dia tak kuat menahan kantuk. Dia sering kali tertidur di dalam kendaraan umum. Jika sudah begitu, biasaya setiap tiga atau lima menit dia terbangun. Sebuah kendaraan yang tidak begitu bagus. Di negerinya, banyak hal yang tidak nyaman, termasuk kendaraan umum. Fasilitas umum memang tidak ada yang memperhatikannya. Hebatnya, di negeri ini tidak ada yang mengeluh. Bagi kebanyakan orang, mengeluh tentang fasilitas umum adalah bid`ah. Sedangkan semua kita mafhum, setiap bid`ah itu tercela dan pasti tertolak. Dan tentu saja ini HARAM, meski Majlis Ulama belum mengeluarkan fatwa.
iya, belum lama ini Majlis Ulama di negeri ini sudah membuat sesuatu yang fenomenal. Semakin populis saja ulama di negeri ini. Padahal di negeri lain, pamor politikus lebih menjadi perhatian, dan ulama jarang di dengar perkataannya. Beruntunglah ulama di negeri ini dengan fatwa-nya. Penyanyi dangdut yang erotis pun tak bisa mengambil alih headline harian ibu kota beberapa hari ini. Bukankah masyarakat yang selalu mendengar perkataan ulama itu adalah masyarakat yang baik?
Kembali ke kisah lelaki tadi. Dia sangat yakin dengan perkataan Imam Al-Ghozali. “Masyarakat rusak karena penguasa rusak. Penguasa rusak karena ulama rusak”. Apapun yang dikatakan ulama hari ini, paling tidak mereka sudah mulai di dengar. Lelaki ini pun sempat mendengar dan merenungi fatwa-fatwa dari Majlis ulama. Ditengah kesibukan dan tugas-tugasnya, dia sempatkan diri tersenyum. Dia bahagia, bukan karena isi fatwa. Tapi karena Majlis ulama telah membuat masyarakat lupa dengan gosip selebritis dan artis. Mungkin sebagian pemuda yang menganut mazhab liga sepak bola pun terseret pada wacana ini.
Senyum lelaki itu tiba-tiba saja berubah menjadi gelak tawa aneh. Ya, dia tertawa. Ternyata bukan hanya masyarakat yang dibuat lupa oleh kesehariannya. Orang-orang lupa dengan fatwa sebelumnya, setiap kali ada fatwa yang baru. Kemarin SEPILIS itu HARAM, lalu Rokok, lalu golput. Lelaki ini tertawa karena ternyata semua yang difatwa haram itu adalah realitas yang nyata dan tidak pernah berubah.
Adalah realitas bahwa Majlis Ulama tidak lebih di dengar oleh presiden dari penasehat politik dan partai pengusung penguasa. Adalah realitas bahwa para pejabat di negeri ini adalah perokok. Demikian juga para kyai di pesantren-pesantren. Lalu anggota legislatif. Lelaki itu berpikir sejenak. Jika SEPILIS haram, maka penguasa yang tidak mendengar Ulama adalah najis, pikir lelaki itu. Jika rokok adalah haram, maka para pejabat, kyai dan anggota legislatif adalah najis. Begitu juga hasil pembangunan dari pajak dan bea cukai rokok. Semuanya najis! Dalam kasus rokok, Ulama telah di dahului oleh para pembuat bungkus rokok. Tapi tak masalah siapa yang duluan. Yang penting adalah pelaksanaannya.
Lelaki itu pun sami`na wa atho`na.. Dia bertekad untuk tidak melakukan aktivitas yang haram atau menyentuh sesuatu yang najis. Berat memang, tapi setiap kebaikan adalah kewajiban. Setiap kewajiban harus diperjuangkan dan dilaksanakan.
Bagaimana dengan Haram-nya golput? Huff! Dia baru teringat akan pesta demokrasi yang akan digelar. Pesta ini konon katanya digunakan untuk mengangkat pemimpin negeri ini. Lelaki itu hampir lupa sudah berapa kali PEMILU digelar sepanjang usia hidupnya. Dia teringat para pedagang asongan, penjual rokok dan anggota legistlatif. Mereka semua punya kesibukan yang sama dengan dirinya: mencari nafkah. Tapi tidak semuanya sama beruntung. Khususnya dengan fatwa Majlis ulama. Para penjual rokok harus merasa dirugikan karena omset penjualan mereka bolehjadi menurun. Para anggota legislatif pun mungkin banyak yang akan kehilangan pekerjaannya. Karena PEMILU adalah PHK besar-besaran. Fatwa haram rokok dan haram golput merugikan berbagai pihak. Hampir semua pihak dirugikan oleh fatwa ulama dan PEMILU, kecuali tukang sablon dan para caleg. Bagi tukang sablon dan para caleg mungkin ini adalah proyek dan bursa lowongan kerja besar-besaran.
Lalu bagaimana dengan lelaki itu?? Bagi dia, ulama walau bagaimana pun tetap mulia. Fatwanya adalah hasil ijtihad yang mesti mendapatkan pahala. Lalu bagaimana sikap lelaki in terhadap PEMILU dan golput? Silahkan tanya sendiri, dia sedang sibuk dengan pergumulan hidup dan perjuangannya. Dia terlalu sibuk untuk sempat menuliskan opini di Kompas atau Republika. Mungkin dia punya pendapat, tapi tak sempat membuat Seminar, atau menggelar demonstrasi di HI. Kalau mau tahu pendapat dia, silahkan tanya sendiri. Mungkin dia mau menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan kamu…
Bagi dia, hidup itu harus diperjuangkan. Semua orang yang disebut diatas sibuk dengan urusan nafkah mereka. Begitu pun dia, lelaki itu. Jika saja kalian sempat bertemu dengan dia dan bertanya tentang Haramnya Golput dan PEMILU. Mungkin kalian akan mendengar jawaban dia sambil berlalu begitu saja… Ngapain mikirin demokrasi, mending mikirin anak&istri!
Lelaki itu sibuk mencari nafkah, seperti sibuknya anggota legislatif mencari nafkah. Apakah Majlis Ulama tempat mencari nafkah? Lelaki itu tidak terlalu peduli, persis seperti tidak pedulinya dia, apakah presiden korupsi atau tidak.
Lelaki itu tetap patuh kepada ulama, dan fatwa-nya. Lelaki itu bukan hanya menginginkan pemimpin yang baik dan mengharamkan golput. Dia telah melampuainya. Dia bahkan sudah melangkahi SEPILIS dengan melupakannya... Ya, melupakannya! Persis seperti kebanyakan orang melupakan syari`at Islam dan fatwa haramnya Sekulerisme dan Pluralisme.
Kemarin dia sempat berkomentar sambil tetap sibuk pada pekerjaannya. Dia mendengar pernyataan salahsatu tokoh partai peserta PEMILU (they are so-called islamic movement), lalu berkata: “Bagi saya demokrasi dan pemenangan PEMILU adalah agenda masa lalu”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 Response to "MELAMPAUI DEMOKRASI"
Posting Komentar